Parimo,radar24jam.com
Ketua Front Pemuda Kaili Bersatu ( FPKB ) Parigi Moutong Arifin Lamalindu,S.Pd berikut pernyataanya :
Menyikapi Persoalan Kebakaran Hutan dan Lahan Dan Kemarau panjang yang terjadi saat ini dimana memunculkan korban bagi petani kebun dan mengancam keselamatan nyawa penduduk cukup menyita perhatian yang serius dan pelibatan lembaga , kelompok masyarakat dan pemerintah . Kejadian ini nyaris menjadi isu nasional,
Dia menjelaskan dalam sebuah realis pernyataan. Tertulisnya kepada wartawan media nasional radar24jam.com perwakilan Sulteng Sabtu malam,14/2/2026 mengatakan Saat kita menangani persoalan ini dilapangan
Kita bersatu berjibaku memadamkan Api dengan berbagai Alat bantu dari yang sederhana menggunakan ranting kayu sampai alat yang modern , niat dan tekad kita hanya satu , bagaimana sijago merah yang membakar semak yang kering dilahan kebun petani dan hutan disekitarnya bisa dipadamkan
Rencana Cukup menyita waktu dan melelahkan serta menyita perhatian kita .Bahkan ada diantara kawan relawan berkata, saya kalau disuruh memilih antara bencana kebakaran hutan lahan dan Banjir bandang , saya pilih banjir le . Alasannya banjir tidak dikejar tapi api yang membakar lahan kita yangengejarnya.
itu bencana alam yang kita hadapi sampai hari ini
Tapi hari ini saya/FPRB berdapan lagi dengan bencana Non Alam dimana berhubungan pengajuan Dana bantuan Tak Terduga (BTT) yang diajukan kepihak yang menjadi leding sektor kebencanaan dinegeri ini yakni BPBD .
FPRB itu mitra sejajar kata dia (Muh. Rivai) Kalak dan saat pertemuan malam dikediaman beliau sebelum membangun Posko Terpadu dihalaman Jembatan Timbang Toboli beliau sempat berdiskusi dan memerintahkan agar FPRB turun bersama sama dalam upaya memadamkan api
Sebagai wujud tanggung jawab saya selaku ketua FPRB Parigi Moutong saya langsung menginstruksikan kawan dan anggota pengurus untuk bersama berbagi peran dalam memadamkan api
Hari ini Jum'at 13 Pebruari pengajuan dana operasional FPRB selama dilapangan ternyata tidak disambut dengan keramahan sebagai mitra , tapi terbalik tigaratus enampuluh derajat.
Dengan bebgai dalih dan alasan proposal ditolak
Sebelumnya saudara muh Ikbal Dirimu saat saya konfirmasi terkait dengan pengajuan dan operasional BTT beliau berkata silahkan diajukan toaka saya tunggu. sangat bertolak belakang beliau selaku Kalak terkesan tidak terbuka atau belum paham mekanisme dan alur distribusi kegiatan kebencanaan dan sumber pendanaannya
Jangan menggunakan sistem dagang dalam urusan ini.
Pembentukan FPRB bukan hanya sekedar pelengkap dalam pelaporan setiap ada bencana kami juga manusia yang sama dengan lainnya harus diperlakukan sama Dimata hukum , kewajiban kami sudah kami laksanakan , maka hak kami jangan dikorting dipotong potong.
Dimana bedanya FPRB dengan lembaga lainnya seperti Tagana TRC PMI dan lainnya lalu kami mau dikasih dana tiga juta delapan ratus itu, saya bilang sama Didit selaku sekretaris jangan terima uang itu
Bahkan sekretaris bilang ke Kalak telpon langsung saja pak Ketua FPRB, beliau hanya bilang tidak saya tidak akan telpon dia, ada apa dengan kamu???
Ada apa dengan saya ???
Peristiwa perlakuan kepada FPRB ini sudah ketiga kalinya, pertama saat kami melakukan pengajuan rencana restorasi Sungai Toraranga .Pengajuan proposal setelah kami di SK kan oleh bupati kami kira ditolak ternyata setelah saya telusuri di ruang operator sekab sudah disposisi oleh Bupati dan Sekab tanggal 16 Oktober 2025 dan sudah diturun kan ke OPD sejajar lalu kemudian saya suruh Sekretaris untuk mencari tahu dimana keberadaan proposal yang sudah disposisi ternyata terselip dan tersembunyi diantara berkas dimeja salhsatu ruang kantor BPBD, kami ketahui 5 hari sudah 2 bulan, pertanyaan kemudian muncul disengaja atau sengaja lalu keluar pernyataan katanya uang kas tidak cukup melayani permintaan kurang 2 jutarupiah permintaan dalam proposal 9 juta lebih lalu teman2 katakan tarik itu proposal supaya jangan menjadi kesalahan FPRB
Pada esok harinya saya bersama sekretaris pergi menemui Ikbal Djirimu dan Kalak dan mencari solusi lain atas proposal
Yang memiliki dua disposisi bupati dan Sekab agar tidak menjadi temuan dikemudian hari.
Dari hasil diskusi itu didapatlah kata sepakat untuk mengundang kelompok lintas organisasi dan OPD dan pelaku usaha Diskusi soal menghadapi kebencanaan sehubungan dg pasca bencana banjir banding Sumatra di Pusdalops
Tapi yang aneh bersama menggagas soal diskusi publik itu saat kegiatan berlangsung FPRB bukan turut mengundang Atw mengundang tapi kami FPRB diundang . Jadi saya jadi heran kalaw dasar diskusi publik itu proposal yang kami ajukan karna dana tidak cukup mestinya kami yang mengundang.
Saya jujur ikut bersalah dan serba salah.
Andaikan restorasi Sungai Toraranga itu jadi dilaksanakan kemungkinannya imbasnya kabupaten ParigiMoutong akan menjadi penerima ADIPURA kedua kalinya.
Mengapa demikian karna tiba2 saja tim penilai yang tadinya sudah menetapkan sungai Bambalemo dan Pelawa sebagai parameter penilaian layak tidak ParigiMoutong Menjadi peraih ADIPURA, tiba2 memindahkan obyek penilaian disungai Toraranga yang ada dijantung kota .
kesimpulan saya fprb yang harus dibimbing mslah ditelantarkan dengan berbagai alasan dalam upayanya ikut membenahi wajah ParigiMoutong.
Layak kah dia memimpin BPBD???
SIDIK,SH

0 Komentar